Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global, Daya Beli Jadi Perhatian

JAKARTA, TELIKSANDINEWS.COM
– Perekonomian Indonesia memasuki kuartal IV 2026 dengan sejumlah indikator yang menunjukkan ketahanan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, inflasi masih berada dalam sasaran, perdagangan mencatat surplus, sementara sektor manufaktur kembali menunjukkan tanda-tanda ekspansi.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi nasional masih terjaga. Inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Di sektor perdagangan, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 kembali mencatat surplus. Bank Indonesia mencatat surplus mencapai US$3,55 miliar, menunjukkan kinerja perdagangan eksternal masih memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

Namun, pemerintah dan pelaku ekonomi tetap perlu mewaspadai tekanan dari sisi harga pangan dan energi. Bank Indonesia mencatat kelompok volatile food mengalami inflasi 5,03 persen secara tahunan pada September. Sejumlah komoditas seperti cabai, daging ayam, beras, dan telur menjadi penyumbang tekanan harga.

Kondisi global juga menjadi tantangan tersendiri. Gejolak geopolitik, harga energi dan ketidakpastian pasar keuangan dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar maupun biaya produksi dalam negeri.

Di sisi moneter, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen pada September 2026. Sementara itu, data pasar pada Senin pagi menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp17.737 per dolar AS, sedangkan IHSG berada di level sekitar 6.036.

Dengan kondisi tersebut, tantangan Indonesia pada penghujung 2026 bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terpelihara.

Pemerintah perlu memastikan momentum pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas, terutama oleh rumah tangga, pekerja dan pelaku usaha kecil. Sebab, kuatnya indikator makroekonomi akan lebih bermakna apabila dibarengi dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat bawah.

Ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat. Namun, menjaga daya beli masyarakat dan mengantisipasi gejolak global akan menjadi kunci menghadapi bulan-bulan terakhir 2026.
(Red)..