SURABAYA || TELIKSANDINEWS
– Selama 12 bulan mereka berdiri di garis terdepan menjaga kedaulatan negara. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dan harus meninggalkan berbagai kenyamanan demi satu tugas: memastikan Merah Putih tetap berkibar di wilayah perbatasan Republik Indonesia–Republik Demokratik Timor-Leste (RI–RDTL).
Para prajurit Satgas Pamtas Yonarmed 12/AY/2/2 Kostrad dan Yonarhanud 2/ABW/2 Kostrad akhirnya kembali ke homebase. Kepulangan mereka disambut langsung Pangdivif 2 Kostrad Mayjen TNI Primadi Saiful Sulun, S.Sos., M.Si., dalam upacara yang digelar di Lapangan Satlinlamil Koarmada II, Surabaya, Minggu (4/10/2026).
Kepulangan tersebut bukan sekadar kembalinya prajurit dari medan tugas. Di balik seragam yang dikenakan, ada cerita panjang tentang pengabdian, kewaspadaan, kebersamaan, dan kerinduan yang selama setahun harus mereka simpan.
Selama berada di perbatasan, para prajurit menjalankan berbagai tugas untuk menjaga keamanan dan kedaulatan wilayah negara. Mulai dari pengamanan patok perbatasan, mencegah aktivitas pelintas batas ilegal, hingga menggagalkan sejumlah upaya penyelundupan narkotika, minuman keras, BBM ilegal, serta barang-barang terlarang lainnya.
Pangdivif 2 Kostrad memberikan apresiasi atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, seluruh capaian selama penugasan merupakan hasil dari dedikasi dan profesionalisme prajurit di lapangan.
“Keberhasilan yang telah kalian torehkan selama di daerah penugasan patut kita apresiasi bersama dan menjadi kebanggaan Divif 2 Kostrad,” tegas Pangdivif 2 Kostrad.
Di tengah masyarakat, para prajurit juga hadir sebagai bagian dari kehidupan warga. Pelayanan kesehatan diberikan kepada masyarakat, dukungan terhadap pendidikan dilakukan, sementara karya bakti menyentuh pembangunan rumah ibadah, fasilitas MCK hingga perbaikan infrastruktur desa.
Kehadiran tersebut menjadi jembatan yang semakin mempererat hubungan antara prajurit TNI dengan masyarakat di wilayah perbatasan.
Selama menjalankan tugas, keberhasilan juga ditunjukkan melalui capaian zero accident dan nihil pelanggaran berat. Catatan tersebut menjadi gambaran bahwa tugas berat di wilayah perbatasan mampu dilaksanakan dengan penuh disiplin dan tanggung jawab.
Kini langkah mereka mengarah pulang. Bukan lagi menuju pos penjagaan atau patroli di garis perbatasan, melainkan menuju rumah, menuju orang-orang yang selama ini menunggu.
Ada keluarga yang menghitung hari kepulangan. Ada doa yang terus dipanjatkan tanpa pernah diketahui sang prajurit. Ada pula kerinduan yang selama berbulan-bulan hanya bisa disampaikan melalui telepon dan kabar singkat.
Hari ini, penantian itu menemukan jawabannya.
Mereka pergi demi Merah Putih. Mereka bertahan demi menjaga kedaulatan negeri. Dan kini, mereka kembali untuk keluarga.
Penugasan boleh berakhir, tetapi semangat pengabdian tidak akan pernah berhenti.
“Pantang Menyerah, Tetap Semangat, dan Selalu Gembira dalam Tugas. Cakra…..!!!”
(Red).
