Kuliah Tamu Series Perdana Kelas Organisasi Internasional dengan ILO Indonesia: Menghapus sekat Mahasiswa dan Dunia Praktisi. Foto : Istimewa.
NASIONAL, TELIKSANDINEWS.COM – Menghadirkan praktisi dalam ruang-ruang kelas Organisasi Internasional merupakan sebuah upaya dalam menghapus image Kampus seperti Menara Gading yang dingin. Berangkat dari pemikiran ini maka lahirlah series Kuliah tamu dalam kelas Organsiasi Internasional program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Budaya dan Politik.
Sebagai Dosen Pengampu mata Kuliah Organisasi Internasional maka Renitha Dwi Hapsari, M.Hub.Int, Resa Rasyidah, M.Hub.Int, dan Fadhilah Permata Nira, M.A menghadirkan kuliah tamu pertama yang bertajuk Peran ILO dalam Perlindungan pekerja Indonesia di Era Digital. Kuliah tamu series pertama ini menghadirkan narasumber yang merupakan seorang praktisi yaitu Sinthia Harkrisnowo takni National Project of ILO Indonesia.
Pada series pertama ini kuliah tamu dilaksanakan secara daring melalui platform zoom meeting pada Jumat, 25 September 2026 pukul 13.00 WIB-selesai. Kegiatan ini berjalan dengan kondusif dan diselingi dengan interaksi dua arah antara mahasiswa dan narasumber.
Ada beberapa poin menarik yang disampaikan oleh Sinthia terkait Pekerja Indonesia namun salah satu hal yang paling menarik menurut penulis adalah terkait Perlindungan Pekerja Indonesia di Era Digital. Sebagai negara dengan Populasi yang banyak dengan kondisi lapangan pekerjaan dalam negeri yang tidak signifikan sesuai dengan janji Wapres saat kampanye menyebabkan banyak di antara masyarakat Indonesia yang memilih untuk menjadi Pekerja Migran Indonesia. Salah satu hal yang memberikan peluang atau akses pekerjaan di luar negeri adalah media sosial namun hal ini tidak sebanding dengan keamanan digital yang disediakan oleh negera.
Melihat kondisi ini maka perlu adanya kerja sama atau kolaborasi antara aktor negara dan non negara dalam menjamin keamanan masyarakat. ILO sebagai aktor non negara memiliki semangat untuk memajukan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan produktif secara bebas, adil, aman, dan bermartabat sedangkan pemerintah seharusnya menyambut baik kolaborasi ini dengan menghadirkan kebijakan yang mampu untuk menjamin hak-hak pekerja dengan layak.
Tidak saja bagi Pekerja Migran Indonesia yang berada di luar negara namun bagi Pekerja Indonesia yang berada dalam negeri seharusnya diperhatikan hak dasarnya dengan sebaik mungkin sehingga kesejahteraan kolektif dapat diraih dengan baik.
Di sisi yang lain, gagapnya Pemerintah dalam merespons berbagai perkembangan teknologi dan informasi di era digital dapat menghantarkan masyarakat dalam hal ini pekerja dalam kondisi tidak aman. Kondisi tidak aman salah satunya adalah menjadi korban scam iklan di platform digital. Tidak saja terjadi dalam proses pencarian kerja di dalam negeri tetapi juga terjadi dalam proses pencarian kerja di luar negeri.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat membutuhkan pekerjaan sehingga membuatnya sampai melakukan tindakan yang sebenarnya jika dilihat secara seksama berbanding terbalik dengan prosedur yang sesuai.
Kondisi ini merupakan hal yang tidak hadir secara instan namun akibat akumulasi dari beragam kebijakan yang tidak mengakomodir kepentingan masyarakat. Kondisi masyarakat yang semakin hari semakin terhimpit tidak dibarengi dengan solusi konkrit yang ditawarkan oleh Pemerintah.
Oleh karena itu, perlu adanya introspeksi diri, kajian ulang, dan upaya bekerja sama yang optimal oleh aktor negara dan non negara. Melalui poin ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk lebih bijak dalam bersosial media, memanfaatkan teknologi digital, dan peduli dengan isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Mahasiswa diharapkan tidak saja menjadi pendengar dan pendiskusi yang ulung di kelas tetapi juga benar-benar menjadi agen perubahan dan kelak akan membawa dampak baik yang signifikan bagi masyarakat khususnya para pekerja Indonesia.
