SINABIS ke-8 Perkuat Sinergi Akademisi, Pemerintah, dan Dunia Usaha dalam Ekosistem Bisnis

SINABIS ke-8 Perkuat Sinergi Akademisi, Pemerintah, dan Dunia Usaha dalam Ekosistem Bisnis. Foto : Istimewa.

SURABAYA , TELIKSANDINEWS.COM – Penguatan industri kreatif dan bisnis digital menuntut kerja sama lintas sektor yang saling melengkapi. Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menjawab kebutuhan tersebut melalui The 8th SINABIS 2026, seminar nasional di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan praktisi untuk membahas arah pengembangan ekosistem bisnis di Indonesia. Seminar berlangsung pada Rabu, 7 Oktober 2026, di Ruang Ballroom, Gedung Menara Wimaya, Twin Tower B Lantai 11, UPN “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan ini dapat diikuti secara luring maupun daring oleh dosen, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Tema yang diusung tahun ini adalah “Kemitraan Strategis Inklusif: Ekosistem Bisnis dalam Mendukung Industri Kreatif dan Inovasi Bisnis Digital yang Berkelanjutan”. Tema tersebut menegaskan bahwa penguatan industri kreatif tidak dapat dikerjakan oleh satu pihak saja. Perguruan tinggi, pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha perlu bekerja bersama dalam kemitraan yang terbuka bagi semua kalangan dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sambutan pembukaan disampaikan oleh Wakil Rektor III UPN “Veteran” Jawa Timur, Prof. Dr. Drs. Lukman Arif, M.Si., yang hadir mewakili Rektor. Pidato kunci (keynote speech) disampaikan oleh Direktur Konten Digital Kementerian Ekonomi Kreatif, Yuana Rochma Astuti, yang mewakili Menteri Ekonomi Kreatif. Kehadiran perwakilan perguruan tinggi dan kementerian menunjukkan bahwa pengembangan industri kreatif berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah dan dunia pendidikan tinggi.

Sesi diskusi menghadirkan empat narasumber dari latar belakang yang berbeda. Dari kalangan akademisi, tampil Dr. Margaretha Banowati Talim, Dra., M.Si., dosen Universitas Katolik Parahyangan, dan Dr. Dyah Widowati, SH., MM., dosen UPN “Veteran” Jawa Timur. Dunia perbankan diwakili Dyla Anisa, S.Si., M.B.A., Assistant Manager of Product Development and System Integration PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Diskusi ini dipandu oleh moderator Maharani Ikaningtyas, S.E., M.AB., dosen Administrasi Bisnis UPN “Veteran” Jawa Timur.

Dalam pidato kuncinya, Ibu Yuana Rochma Astuti memaparkan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional (the new engine of growth) yang pengembangannya perlu dimulai dan diperkuat dari daerah. Pengembangan ekosistem tersebut memerlukan kolaborasi berbagai unsur melalui pendekatan hexahelix serta pemanfaatan besarnya peluang ekonomi digital Indonesia. Materi itu juga menggambarkan ekosistem konten digital sebagai jejaring yang menghubungkan kreator, agregator, platform digital, produk kreatif, dan pengguna.

Penguatan talenta melalui pelatihan kreator konten, afiliator, fotografi digital, penulisan digital, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dipandang penting untuk membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.

Dalam konteks perguruan tinggi, kolaborasi dengan universitas dinilai strategis agar mahasiswa dipersiapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga kreator, inovator, wirausahawan, dan pelaku ekonomi digital.

Ibu Dr. Dyah Widowati membawakan materi tata kelola organisasi dan transformasi digital sumber daya manusia (SDM). Materi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital bergantung pada keseimbangan antara teknologi, manusia, regulasi, dan kepemimpinan, sementara resistensi budaya dan kesenjangan keterampilan digital masih menjadi tantangan. Transformasi SDM perlu didukung oleh penggunaan Human Resource Information System (HRIS) dan people analytics, proses upskilling dan reskilling, serta pengembangan budaya kerja digital.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi harus tetap memperhatikan perlindungan data pribadi, keamanan siber, etika penggunaan kecerdasan buatan, dan perlindungan hak pekerja. Pemimpin masa depan dituntut lincah mengambil keputusan, cerdas secara emosional, mampu mengelola perubahan, dan menciptakan lingkungan yang inklusif, sedangkan prinsip environmental, social, and governance (ESG) menjadi bagian penting agar digitalisasi menghasilkan organisasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Selanjutnya, Ibu Dr. Margaretha Banowati Talim menyampaikan materi redesain strategi UKM kreatif melalui humane entrepreneurship dan tata kelola risiko modal manusia. Materi ini menempatkan manusia sebagai pusat strategi bisnis, sebab di era BANI yang ditandai kondisi rapuh, penuh kecemasan, tidak linier, dan kompleks, UKM tidak cukup hanya mengejar target finansial dan produktivitas. Organisasi juga perlu memperhatikan harkat dan martabat manusia, moral, komitmen, kreativitas, serta kesejahteraan SDM.

Pada konteks Indonesia, materi tersebut menunjukkan perlunya penguatan aspek ekosistem dalam Humane Cycle dan aspek enlightenment dalam Entrepreneurship Cycle. Pengelolaan risiko modal manusia, talent management, dan governance, risk, and compliance (GRC) pun perlu diintegrasikan agar tata kelola menjadi instrumen untuk membangun organisasi yang transparan, bertanggung jawab, resilien, dan manusiawi.

Dari sisi perbankan, Ibu Dyla Anisa memaparkan bahwa bank memiliki peran yang semakin luas dalam pertumbuhan UMKM dan industri kreatif. Bank tidak lagi hanya berfungsi sebagai pemberi kredit, tetapi berkembang menjadi mitra pertumbuhan ekosistem usaha melalui pembiayaan, infrastruktur transaksi digital, pendampingan, literasi keuangan, dan akses pasar. Tantangan utama usaha kreatif meliputi keterbatasan agunan, dominasi aset tidak berwujud seperti hak cipta dan merek, pencatatan keuangan yang belum optimal, serta arus kas yang berbasis proyek.

Karena itu, solusi yang diperlukan bukan sekadar melonggarkan persyaratan pembiayaan, melainkan merancang produk keuangan yang sesuai dengan karakter usaha kreatif. Digitalisasi transaksi turut penting karena riwayat transaksi membentuk rekam jejak usaha yang mendukung penilaian kelayakan pembiayaan, dan pendekatan itu perlu diikuti pendampingan agar UMKM bergerak dari go productive, go digital, hingga go global.

Berdasarkan keempat materi tersebut, benang merah yang mengemuka adalah bahwa masa depan bisnis digital dan industri kreatif Indonesia tidak dapat dibangun hanya dengan teknologi atau modal secara terpisah. Keberhasilan transformasi membutuhkan integrasi lima unsur, yaitu inovasi dan teknologi digital, SDM yang kompeten dan adaptif, tata kelola serta manajemen risiko yang baik, akses pembiayaan yang inklusif, dan kolaborasi ekosistem yang kuat.

Teknologi perlu ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kapabilitas manusia, bukan menggantikan nilai kemanusiaan. Pada saat yang sama, tata kelola, perlindungan data, keamanan siber, etika AI, GRC, dan prinsip keberlanjutan harus menjadi landasan agar inovasi digital berkembang secara bertanggung jawab.

Sinergi pemerintah, akademisi, industri/UMKM, lembaga keuangan, komunitas, dan media dipandang menjadi kunci dalam membentuk ekosistem ekonomi kreatif yang produktif, inklusif, humanis, resilien, dan berdaya saing. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan talenta, penelitian, inovasi, kewirausahaan, dan penghubung kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Melalui sinergi tersebut, transformasi digital dan ekonomi kreatif diharapkan memberi kontribusi nyata bagi penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, serta peningkatan daya saing daerah dan nasional. Upaya itu juga diharapkan mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Artikel yang dipresentasikan dalam seminar ini terbagi dalam enam subtema. Subtema tersebut meliputi pemasaran digital dan branding kreatif, keuangan inklusif dan investasi berkelanjutan, serta manajemen SDM dan talenta digital. Tiga subtema lainnya adalah sistem informasi dan transformasi digital bisnis, strategi bisnis dan kemitraan ekosistem bisnis berkelanjutan, serta kewirausahaan dan isu kontemporer bisnis.

Keragaman subtema ini mencerminkan bahwa industri kreatif dan bisnis digital perlu dikaji dari aspek pemasaran, pembiayaan, sumber daya manusia, teknologi, hingga strategi kemitraan. Selain memaparkan hasil kajian, presenter berkesempatan menerbitkan artikelnya di jurnal yang dikelola penyelenggara. Artikel ilmiah dapat dipublikasikan pada Jurnal Bisnis Indonesia, jurnal nasional terakreditasi Sinta 4. Karya pengabdian dan penelitian juga dapat dimuat pada Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Jurnal Penelitian (Jurnal Sinabis). Hasil diskusi diharapkan memperkaya kajian ilmiah sekaligus mendorong inovasi di sektor industri kreatif dan ekonomi digital Indonesia.

Penulis : Rizka Kurnia Andaru, S.AB., M.AB
Editor. : Hariono