Tim Dosen Prodi Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur saat Melaksanakan Pengabdian Masyarakat di Unit-Unit Bisnis Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Foto : Istimewa.
JOMBANG, TELIKSANDINEWS.COM — Akuntansi tidak hanya mencatat untung dan rugi. Akuntansi juga bisa menjadi alat untuk mewujudkan ekonomi dan keuangan yang berkelanjutan berdasarkan nilai-nilai Islam. Pesan ini dibawa tim dosen Program Studi Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur saat mendampingi unit-unit bisnis Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dalam program pengabdian kepada masyarakat.
Tim pengabdian diketuai Armizha Rahmatika, S.A., M.A. Anggotanya Dr. Lina Nasehatun Nafidah dan Nur Afiqoh Sari, S.A., M.A. Dua mahasiswa Akuntansi juga ikut terlibat, yaitu Mei Yuana Krisdawati dan Aliyah Putri Setyoutami.
Program ini difasilitasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN “Veteran” Jawa Timur. Pendampingan berlangsung beberapa kali selama Juli hingga Agustus 2026. Tim berdialog dengan pengurus yayasan dan pengelola unit usaha. Tim juga meninjau langsung operasional berbagai unit bisnis pesantren: BMT dan BPR Syariah Lantabur, koperasi dan jasa boga, Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT), serta wisata religi makam Gus Dur. Tanah wakaf produktif yang dikelola bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan juga ikut ditinjau.
Dalam pendampingan ini, tim memperkenalkan pendekatan Sharia Enterprise Theory (SET). SET memandang Allah SWT sebagai pemilik hakiki seluruh sumber daya. Pengelola usaha berperan sebagai khalifah yang menjalankan amanah. Karena itu, pertanggungjawaban unit bisnis tidak cukup hanya kepada yayasan.
Pertanggungjawaban juga berlaku kepada Allah (hablunminallah), kepada masyarakat (hablunminannas), dan kepada lingkungan (hablunminal’alam).
“Di sinilah peran akuntansi. Akuntansi syariah memastikan setiap rupiah yang dikelola pesantren bisa dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara administratif tetapi juga secara moral dan spiritual. Jika akuntabilitasnya kuat, kepercayaan masyarakat tumbuh, dan ekonomi pesantren bisa berkelanjutan,” ujar Armizha Rahmatika S.A., M.A.

Menurut tim, Tebuireng sudah menjalankan prinsip amanah dalam pengelolaan usahanya. Keuntungan diposisikan sebagai hasil sampingan, bukan tujuan utama. Manfaat usaha pun mengalir keluar pesantren. Lantabur membiayai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Keuntungan katering dan koperasi dipakai untuk subsidi silang bagi santri. LSPT menyalurkan layanan sosial dan pendidikan. Pedagang lokal di kawasan wisata religi ikut mendapat penghasilan.
Sejalan dengan SDG 8 ,Tim menilai praktik tersebut berkontribusi langsung pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) ke-8, yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Kontribusinya terlihat dari tiga hal. Pertama, pembiayaan produktif bagi UMKM melalui BMT dan Lantabur. Kedua, penyerapan tenaga kerja lokal di unit katering, koperasi, dan wisata religi. Ketiga, kemitraan ekonomi produktif melalui kolam ikan di atas tanah wakaf.
“Akuntabilitas berbasis amanah ternyata bisa diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi agenda pembangunan global. Nilai spiritual pesantren tidak bertentangan dengan pertumbuhan ekonomi. Justru nilai itu yang membuat pertumbuhannya adil dan inklusif,” kata Dr. Lina Nasehatun Nafidah.
Program ini menjadi bagian dari komitmen UPN “Veteran” Jawa Timur sebagai “Kampus Berdampak”, yaitu menghadirkan ilmu akuntansi yang bermanfaat langsung bagi kemandirian ekonomi umat.
